Suatu ketika, sebuah titik telah berubah
menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian
membentuk ruang.

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Ide tentang ruang untuk
hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak
peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa
nyawa yang telah melayang.

Demi beberapa meter
persegi yang lebih luas, beberapa depa tanah yang lebih subur, beberapa jengkal
ladang kaya minyak dan entah apa lagi…

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Dimensi tubuh kita
tidaklah terlalu luas, namun justru karena otak kecil kita, segenggam hati kita
dan seonggok jantung kita yang tentu juga kecil, mulai muncul masalah.

Rentetan keinginan dan
kebutuhan yang dihasilkan dari sensasi mata, desiran kulit, dan getaran gendang
telinga. Terhubung melalui syaraf halus dengan otak yang mulai bekerja,
merembet pula ke jantung yang perlahan mulai berdegup dan mengendap-endap
menjadi ketetapan hati.

Keinginan yang menjelma
menjadi ular dengan bisa dan bahaya laten. Memaksa kita untuk mendapatkan lebih
dan lebih banyak lagi ruang. Padahal bukankah dimensi tubuh kita tidak terlalu
luas?

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Kembali ke hati, bukankah
kecil? Hitam tidak terlalu enak dan sumber penyakit? Jangan tergesa-gesa dengan
fakta ini, semua ini terjadi ketika hati telah mati.

Dalam perjalanannya hati
mengalami cerita selayaknya tubuh, ada muda dewasa dan tua. Selayaknya hari,
ada pagi, siang dan malam. Kemudaaan hati menyebabkan ia diisi dengan sejuta
harapan. Seperti anak-anak, semua keinginan dan harapan harus terpenuhi. Saat
itu, keinginan kita masih sangat sederhana dan akan sangat banyak orang yang
akan membantu kita, bukankah ketika itu semua orang sayang kepada kita? Hati
waktu itu seperti taman yang tidak luas namun indah.

 Seiring bertambahnya usia kita, keinginan
akan semakin bertambah pula. Saat bersamaan, kita akan mulai mengenal
kegagalan, harapan yang tak kunjung menjadi nyata dan keinginan yang tidak
terkabul. Ada pula saat ketika hati mulai menyediakan ruang spesial untuk
sesuatu bernama cinta.
Saat
itu hati telah menjadi ruang-ruang dengan isi masing-masing ruang yang berbeda.
Ada ruang untuk kegagalan, harapan, keinginan dan cinta.

Bila
hati telah menjadi tua, banyak yang bisa terjadi. Bergantung kepada
masing-masing individu.
Si
tua ini, adalah hasil dari perjalanan di masa lalu. Bisa saja menjelma menjadi
ruang dendam yang diisi dengan senjata pemusnah masal atau tiang gantungan.
Namun tak jarang ada pula yang berubah menjadi ruang penuh maaf, berisi bilik
pengakuan dosa, dan ruang kosong sangat luas untuk membuang semua resah, gagal
dan benci.

Akhirnya berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

-sedikit banyak terinspirasi leo tolstoy-

Leave a Reply