Bagian kedua dari dua tulisan

Kemaren keramaian di dusunku menjadi fokus, beberapa cerita kemeriahan,
catatan tawa, torehan suka cita, dan untaian nada menjadi lokus. Keberanian
beberapa warga desa kami yang telah mengagendakan acara, meski dana terbatas,
bahkan jika boleh dikatakan dana belum ada, sungguh memberikan inspirasi.

 

Di lain pihak, dalam sebuah harian swasta nasional, di rubrik asal-usul
disinggung pula tentang kemeriahan ini. Betapa makna kemerdekaan sudah
bergeser. Jika zaman dahulu kala (maaf) mungkin lebih tepat jika dituliskan
beberapa saat yang lalu, perayaan kemerdekaan Indonesia adalah, penyegaran
kembali makna revolusi, penyemaian bibit kebangsaan kepada generasi baru atau
kepada mereka yang telah lupa. Saat ini kemerdekaan di rayakan…berganti
menjadi perlombaan, perayaan dan karnaval atau entah apa lagi namanya.

 

Ada kekhawatiran rupanya, tentang pergeseran makna kemerdekaan ini.
Beberapa pihak menganggap bahwa kondisi aktual justru melenakan, membuat lupa
dan mungkin pula memabukkan. Kemeriahan, perayaan dan karnaval dituding menjadi
media pelupa makna revolusi, pengalih perhatian akan makna-makna kebangsaan. Betapa
dahulu perayaan dilakukan dengan sederhana namun khidmat, dibawah bayang-bayang
ancaman penjajahan, dibalik ancaman disintegraasi, tanpa perlu upacara, barisan
pengibar sang saka serta tentara yang berjajar gagah. Kemerdekaan menjadi
penanda, pembuka pintu sejarah, bermulanya sebuah babak baru, episode yang lama
selesai dan diganti episode baru. Tanpa gempita namun bermakna, tanpa suara
hening, khidmat dan meresap suksma.

 

Kemudian sekarang…

 

Saat minyak tanah langka, minyak goreng menjadi barang mewah –bahkan ada
tetangga di kos saya, sudah terlanjur membuat krupuk gendar, tak jadi digoreng
karena tak ada minyak, atau mungkin banyak pula kejadian yang lain- kebutuhan
dapur yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak yakni masalah perut
menjadi sebuah perjuangan, apa salahnya dengan perayaan kemerdekaan?? Saya
kurang mengetahui, mungkinkah masyarakat sekarang boleh dianggap sebagai
masyarakat yang manja atau kolokan? Ketika kebersamaan menjadi barang langka,
kepedulian seperti angan, dan saling membantu sama dengan bunuh diri??

 

Mungkin hanya perayaan yang bisa menetralkannya. Bila dengan karnaval
sementara masalah perut dipinggirkan, kenapa tidak? Ya maaf jika kemudian
kebangsaan, disintegrasi, reformasi yang mandek dan revolusi yang juga macet
dilupakan. Smoga hanya sejenak, hingga nanti pada saatnya akan ingat lagi, atau
selamanya karena bangsa ini memang bangsa pelupa?

2 Responses to “Memaknai Kemerdekaan (2)”
  1. yah begitulah carut marut indonesia-mu De…

  2. :::ary
    Indonesia kita juga ohm…
    Tapi saya tetep bangga ko’ meski untuk alasan yang lain

Leave a Reply