Beberapa hari yang lalu, kemerdekaan yang kesekian kali (lebih tepatnya ke 62) dirayakan. Buanyak sekali kegiatan untuk memeriahkannya. Seperti sudah menjadi budaya, ada perlombaan, pentas seni, karnaval dan lainnya. Mulai dari tingkat RT, RW Desa, Kecamatan, Kabupaten hingga Provinsi diadakan bermacam agenda. Hadiah yang hanya sepotong kaus, secarik roti, beberapa bungkus sabun mandi atau cuci, hingga menthok (ini khusus terjadi di dusunku).
Tak ketinggalan dusun kami, (maklum saya kan orang dusun boz) mengagendakan beberapa acara. Sangat sederhana, kebanyakan peserta masih SD, dengan panitia masih umur belasan. So, jangan harap akan ditemukan panggung yang heboh, runtutan acara yang menarik atau sekedar sound system yang berkualitas. Meski begitu, dusun kami mencoba untuk tetap tampil meriah. Jalan-jalan yang masih bebatuan ditata, di kanan kirinya dibersihkan dan dipasang bendera. Lampu yang beberapa saat lalu temaram kini sudah berpijar benderang.
Pada saatnya, tibalah di puncak acara, dimulai dari jalan santai hingga pentas seni. Namun jangan bayangkan akan kau temukan artis ibukota berdada sintal, pakaian terbuka dan paha yang kuning gading. Alih-alih piranti band yang lengkap, sebuah keyboard milik warga yang lumayan merdu, justru disambungkan dengan perangkat stereo yang sayangnya tidak stereo dan tidak merdu. Haha…Artis lokal, yang make-upnya sepertinya terlalu tebal, dan busana yang fyuhhh…lumayan bikin deg2an pemuda kampung kami, melenggak dengan canggung. Di terpa tatapan nanar ibu-ibu (yang sambil berdoa semoga anaknya tak seperti si penyanyi) atau lirikan pemuda yang selalu mengarah kebawah (istilah kerennya : tilt down) entah kenapa…
Itulah…dusunku…kemeriahan…dalam kesederhanaan…
Lepas dari itu semua, saat itu dusun kami bersatu, bersama, tertawa. Sebuah hal yang jarang terjadi dalam skala massal yah meski masih tingkat dusun. Hari yang lewat biasanya akan disibukkan dengan pekerjaan di sawah, bermandikan peluh dan mengakrabi debu. Setetes air penawar dahaga, beberapa ikan asin, tempe goreng dan tahu secuil, menjadi santap siang yang mak nyuss, dibawakan istri dari rumah dan senyum di gigi tak rapinya. Namun siang itu, lupakan sejenak sawah, air yang sukar dicari apa lagi jika kemarau seperti ini, dan padi yang menguning bukan karena tua siap dipanen, namun karena air yang kian langka. Siang itu kami tertawa, berjoget, berbagi dan saling mengirikan door prize..yang seperti saya sebut di muka, kaos oblong, buku tulis, sabun mandi, sabun cuci, odol, kompor minyak tanah dan menthok…
…Mungkinkah…itu makna kemerdekaan bagi dusun kami?? kebersamaan, kegembiraan, dan tawa? meski masih dalam koridor kesederhanaan…
-mungkin ini bagian pertama dari beberapa tulisan-
Entries (RSS)
halah de… de arep menehi komentar we bojo ngjak mulih… sesuk meneh wae yoh
siap…jadi suami yang baik ya nak…
Piss