Archive for November, 2007

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan
yang ditemui

pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon di Pasifik Selatan.
Nah, penduduk primitif yang tinggal di

sana

punya sebuah kebiasaan yang
menarik yakni meneriaki pohon.

Untuk apa ?

Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan
akar-akar
yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, jadi
tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya
adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga
ke
atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan
penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya
kepada pohon itu.

Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering.
Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon
itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka.
 
Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap
mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut
kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk
primitif di kepulauan Solomon ini ?

O, sangat berharga sekali !

Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada
mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada
anak Anda, ‘Ayo cepat ! Dasar lelet’   ’ Bego
banget sih.

Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan’.

‘Ayo, jangan main-main disini. Berisik ! Bising !’

Atau, pernahkah Anda berteriak kepada orang tua Anda karena merasa mereka
membuat Anda jengkel ?

‘Kenapa sih makan aja
berceceran ?’

‘Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu’

‘Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar ?’

‘Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?’

Atau, mungkin Anda pun
berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena
Anda merasa sakit hati,

‘Cuih !  Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak !’,

‘Iii   !   Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa !, ‘Aduh.
Perempuan
kampungan banget sih !’

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya, ‘E tolol. Soal mudah
begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter ?

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesel, ‘E tahu
ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel. Ada
banyak
yang bisa gantiin kamu’, ‘Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji
elu ?

Ingatlah !

Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah,
terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan
Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak,
kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan
roh yang mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi2 kita perlahan-lahan,
pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk
mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh
jaraknya, bukan ?

Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati
mereka begituuuu jauhnya.

Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !
 
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai
serta mematikan ‘roh’ pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan
dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang
yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah
menggunakan teriakan-teriakan.

Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain
ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan
balasan yang Anda akan terima.

Anda akan semakin dijauhi.

Atau Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus
berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

________________________________________________________________

:::Dari seorang teman untuk saya dan semua:::

- www.unclegoop.wordpress.com -

 

Comments 2 Comments »

SARAN BERSOPAN-SANTUN DALAM BER-EMAIL
Zoran Todorovich

Bagi sebagian besar orang, email tampaknya menjadi rahmat sekaligus bencana. Email dapat menghemat biaya komunikasi,
terutama pada orang-orang yg jarang berhubungan dengan kita. Namun, dapat
membuat kita menderita dengan menerima banjir "spam email". Tidak
banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi para "spammers"
ini kecuali terus-menerus melaporkannya pd "network administratur"
kita. Bagaimanapun, dalam melakukan korespondensi pribadi, kita seyogyanya
tetap bersopan-santun untuk menjaga hubungan baik.

Berikut 10 saran bersopan-santun dalam ber-email ria :

1. Benahi susunan email "forwards" anda.
Bila anda ingin memforward sebagian atau seluruh pesan pada pihak lain, maka
luangkan sedikit waktu anda untuk menghapus tanda yang biasanya muncul. Seperti
tanda ">" dsb.

2. Gantilah "Subject" atau Judul email bila topik pembicaraananda
berubah.
Seringkali setelah saling bertukar email beberapa kali, topik pembicaraan
berubah dari aslinya, namun "subject" atau judul email belum juga
diganti. Akan jauh lebih mudah untuk melacak email yang masuk bila
"subject" disesuaikan dan dapat mencerminkan isi email yang sedang
anda tulis.

3. Hapuslah pesan reply yang tidak perlu.
Beberapa program email secara otomatis memunculkan isi email yang terdahulu
bila anda sedang membalas/mereplynya . Ada baiknya anda menghapus pesan
tersebut dan hanya tinggalkan pesan yang benar-benar anda anggap perlu.

4. Jangan teruskan surat berantai.
Anda tentu merasa terganggu dan jengkel bila seseorang mengirimi anda sebuah
email tentang humor atau cerita-cerita, kemudian meminta anda untuk
meneruskannya dengan segera pada 10 teman anda yang lain, atau bila tidak maka
anda akan ketiban sial. Mengapa anda juga bermaksud mengganggu dan membuat
orang lain jengkel bila anda meneruskan email semacam ini? Hapus saja dengan
menekan tombol "delete".

5. Hormati privacy orang lain.
Ini termasuk juga alamat email mereka. Bila anda sedang mengirim email ke
sejumlah orang yang mungkin satu-sama- lain tidak saling mengenal, gunakan
"bcc" atau "blind carbon copy " agar alamat-alamat email
mereka tidak saling diketahui.
Bila anda mudah mengirim email ke banyak alamat sekaligus tanpa mempertimbang -
kan saran ini, maka bersiap-siaplah untuk
dikomplain karena mereka menerima spam.

6. Jangan melakukan spam.
Mungkin saja anda tidak sengaja melakukannya, tetapi banyak orang tidak
menyadari jika mereka menggunakan alamat-alamat
email yang mereka dapat dari "forwarded email", kemudian
menggunakannya tanpa permisi, ini termasuk bentuk spam.

7. Jangan berteriak-teriak.
MENULIS DENGAN MENGAKTIFKAN HURUF BESAR KAYAK GINI (tombol "Caps
Lock" ON) dapat diartikan sebagai pertanda kemarahan. Orang mungkin
menganggap anda sebagai pengguna internet yang tidak baik, atau tidak sopan
sama sekali.

8. Jangan mudah "terbakar", over-reaksi, atau terburu-buru menghapus
suatu email tanpa berusaha memikirkannya dgn baik.
Dalam bahasa tulis, kita memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana kita
merespon atas sesuatu email yang membuat kita marah. Begitu juga dengan
beremail ria. Bila anda merasa dipenuhi dengan emosi yang kuat, kemudian
menulis balasan dengan emosional pula, maka sebaiknya jangan keburu anda kirim
email tersebut. Simpanlah dulu dalam "draft folder" selama beberapa
hari untuk dibaca ulang. Banyak persahabatan yang hancur gara-gara terburu-buru
menanggapi suatu email tanpa berusaha memikirkannya dengan bijaksana.

9. Bersabarlah dalam menunggu "reply".
Ketahuilah, orang tidak hanya hidup dengan internet. Mereka mungkin tidak
membalas email anda dengan segera. Masih banyak orang yg men-cek email mereka
seminggu sekali.

10. Akuilah bahwa tidak semua orang senang menerima segala yang anda anggap
lucu.
Jangan terus-menerus mengirimkan sesuatu pada mereka yang tidak pernah
membalasnya, meskipun dengan ucapan terima kasih.

Jangan lupa: Luangkan waktu juga untuk memikirkan apa yang kita forward kan dan
kepada siapa kita mem-forwardkan suatu email. Tidak semua orang setuju atau
suka dengan materi yang kita forwardkan.
Untuk orang-orang tertentu, subyek-subyek tertentu (yang kita anggap lucu dan
menarik atau ringan) bisa jadi sangat sensitif dan serius!!

(diadaptasi dari The Top 10 E-mail Courtesy Suggestions, Zoran
Todorovich) On Eagle’s Wings

Comments 1 Comment »