Author Archive

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan
yang ditemui

pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon di Pasifik Selatan.
Nah, penduduk primitif yang tinggal di

sana

punya sebuah kebiasaan yang
menarik yakni meneriaki pohon.

Untuk apa ?

Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan
akar-akar
yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, jadi
tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya
adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga
ke
atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan
penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya
kepada pohon itu.

Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering.
Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon
itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka.
 
Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap
mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut
kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk
primitif di kepulauan Solomon ini ?

O, sangat berharga sekali !

Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada
mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada
anak Anda, ‘Ayo cepat ! Dasar lelet’   ’ Bego
banget sih.

Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan’.

‘Ayo, jangan main-main disini. Berisik ! Bising !’

Atau, pernahkah Anda berteriak kepada orang tua Anda karena merasa mereka
membuat Anda jengkel ?

‘Kenapa sih makan aja
berceceran ?’

‘Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu’

‘Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar ?’

‘Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?’

Atau, mungkin Anda pun
berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena
Anda merasa sakit hati,

‘Cuih !  Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak !’,

‘Iii   !   Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa !, ‘Aduh.
Perempuan
kampungan banget sih !’

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya, ‘E tolol. Soal mudah
begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter ?

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesel, ‘E tahu
ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel. Ada
banyak
yang bisa gantiin kamu’, ‘Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji
elu ?

Ingatlah !

Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah,
terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan
Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak,
kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan
roh yang mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi2 kita perlahan-lahan,
pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk
mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh
jaraknya, bukan ?

Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati
mereka begituuuu jauhnya.

Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !
 
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai
serta mematikan ‘roh’ pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan
dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang
yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah
menggunakan teriakan-teriakan.

Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain
ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan
balasan yang Anda akan terima.

Anda akan semakin dijauhi.

Atau Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus
berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

________________________________________________________________

:::Dari seorang teman untuk saya dan semua:::

- www.unclegoop.wordpress.com -

 

Comments 2 Comments »

SARAN BERSOPAN-SANTUN DALAM BER-EMAIL
Zoran Todorovich

Bagi sebagian besar orang, email tampaknya menjadi rahmat sekaligus bencana. Email dapat menghemat biaya komunikasi,
terutama pada orang-orang yg jarang berhubungan dengan kita. Namun, dapat
membuat kita menderita dengan menerima banjir "spam email". Tidak
banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi para "spammers"
ini kecuali terus-menerus melaporkannya pd "network administratur"
kita. Bagaimanapun, dalam melakukan korespondensi pribadi, kita seyogyanya
tetap bersopan-santun untuk menjaga hubungan baik.

Berikut 10 saran bersopan-santun dalam ber-email ria :

1. Benahi susunan email "forwards" anda.
Bila anda ingin memforward sebagian atau seluruh pesan pada pihak lain, maka
luangkan sedikit waktu anda untuk menghapus tanda yang biasanya muncul. Seperti
tanda ">" dsb.

2. Gantilah "Subject" atau Judul email bila topik pembicaraananda
berubah.
Seringkali setelah saling bertukar email beberapa kali, topik pembicaraan
berubah dari aslinya, namun "subject" atau judul email belum juga
diganti. Akan jauh lebih mudah untuk melacak email yang masuk bila
"subject" disesuaikan dan dapat mencerminkan isi email yang sedang
anda tulis.

3. Hapuslah pesan reply yang tidak perlu.
Beberapa program email secara otomatis memunculkan isi email yang terdahulu
bila anda sedang membalas/mereplynya . Ada baiknya anda menghapus pesan
tersebut dan hanya tinggalkan pesan yang benar-benar anda anggap perlu.

4. Jangan teruskan surat berantai.
Anda tentu merasa terganggu dan jengkel bila seseorang mengirimi anda sebuah
email tentang humor atau cerita-cerita, kemudian meminta anda untuk
meneruskannya dengan segera pada 10 teman anda yang lain, atau bila tidak maka
anda akan ketiban sial. Mengapa anda juga bermaksud mengganggu dan membuat
orang lain jengkel bila anda meneruskan email semacam ini? Hapus saja dengan
menekan tombol "delete".

5. Hormati privacy orang lain.
Ini termasuk juga alamat email mereka. Bila anda sedang mengirim email ke
sejumlah orang yang mungkin satu-sama- lain tidak saling mengenal, gunakan
"bcc" atau "blind carbon copy " agar alamat-alamat email
mereka tidak saling diketahui.
Bila anda mudah mengirim email ke banyak alamat sekaligus tanpa mempertimbang -
kan saran ini, maka bersiap-siaplah untuk
dikomplain karena mereka menerima spam.

6. Jangan melakukan spam.
Mungkin saja anda tidak sengaja melakukannya, tetapi banyak orang tidak
menyadari jika mereka menggunakan alamat-alamat
email yang mereka dapat dari "forwarded email", kemudian
menggunakannya tanpa permisi, ini termasuk bentuk spam.

7. Jangan berteriak-teriak.
MENULIS DENGAN MENGAKTIFKAN HURUF BESAR KAYAK GINI (tombol "Caps
Lock" ON) dapat diartikan sebagai pertanda kemarahan. Orang mungkin
menganggap anda sebagai pengguna internet yang tidak baik, atau tidak sopan
sama sekali.

8. Jangan mudah "terbakar", over-reaksi, atau terburu-buru menghapus
suatu email tanpa berusaha memikirkannya dgn baik.
Dalam bahasa tulis, kita memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana kita
merespon atas sesuatu email yang membuat kita marah. Begitu juga dengan
beremail ria. Bila anda merasa dipenuhi dengan emosi yang kuat, kemudian
menulis balasan dengan emosional pula, maka sebaiknya jangan keburu anda kirim
email tersebut. Simpanlah dulu dalam "draft folder" selama beberapa
hari untuk dibaca ulang. Banyak persahabatan yang hancur gara-gara terburu-buru
menanggapi suatu email tanpa berusaha memikirkannya dengan bijaksana.

9. Bersabarlah dalam menunggu "reply".
Ketahuilah, orang tidak hanya hidup dengan internet. Mereka mungkin tidak
membalas email anda dengan segera. Masih banyak orang yg men-cek email mereka
seminggu sekali.

10. Akuilah bahwa tidak semua orang senang menerima segala yang anda anggap
lucu.
Jangan terus-menerus mengirimkan sesuatu pada mereka yang tidak pernah
membalasnya, meskipun dengan ucapan terima kasih.

Jangan lupa: Luangkan waktu juga untuk memikirkan apa yang kita forward kan dan
kepada siapa kita mem-forwardkan suatu email. Tidak semua orang setuju atau
suka dengan materi yang kita forwardkan.
Untuk orang-orang tertentu, subyek-subyek tertentu (yang kita anggap lucu dan
menarik atau ringan) bisa jadi sangat sensitif dan serius!!

(diadaptasi dari The Top 10 E-mail Courtesy Suggestions, Zoran
Todorovich) On Eagle’s Wings

Comments 1 Comment »

Ada yang tak mampu kulupa

Bulu lembut di keningmu

Yang meremang
kala kukecup

Dan ketika
kusibak rambutmu…

 

Ada yang tak
mampu kubuang

Serangkaian
kenang-kenangan

Yang tergambar di
gelap malam

Dan tersimpan di
pucuk daunan

 

~Ada yang tak
mampu kulupa~

-Ebiet G Ade-

 

Kerinduan seperti
halimun

Menggelayut manja
dipucuk daun

Menelusup, di
semak rimbun

Selimuti dingin seluruh
kebun

 

Sebaris kenangan bermakna
nostalgia

Menggelayut manja
disudut mata

Menelusup dalam
kelindan suksma

Selimuti hangat
seluruh raga

 

Semburat merah
tiba dari timur

Hangat mentari menembus
daun

Bak prisma warna
pembaur

Berhasil usir
pergi halimun

 

Dan nostalgia
jelmaan kenangan

Tak berubah menjadi
kebencian

Syahdu memberi
kehangatan

Cinta lama nama
lain kerinduan

 

________________________________________________________________________

Terima kasih
untuk yang sudi mampir

Terima kasih
untuk Ebiet G Ade dan Goenawan Muhammad

________________________________________________________________________

 
Ah ya…

Bila sedang tidak
ada kerjaan, dan sempat singgah disini kenapa tidak sekalian menyesatkan diri
ke www.unclegoop.wordpress.com
sungguh dijamin hanya kesesatan yang ada.

Anda Berani??

Comments 1 Comment »

Bagian kedua dari dua tulisan

Kemaren keramaian di dusunku menjadi fokus, beberapa cerita kemeriahan,
catatan tawa, torehan suka cita, dan untaian nada menjadi lokus. Keberanian
beberapa warga desa kami yang telah mengagendakan acara, meski dana terbatas,
bahkan jika boleh dikatakan dana belum ada, sungguh memberikan inspirasi.

 

Di lain pihak, dalam sebuah harian swasta nasional, di rubrik asal-usul
disinggung pula tentang kemeriahan ini. Betapa makna kemerdekaan sudah
bergeser. Jika zaman dahulu kala (maaf) mungkin lebih tepat jika dituliskan
beberapa saat yang lalu, perayaan kemerdekaan Indonesia adalah, penyegaran
kembali makna revolusi, penyemaian bibit kebangsaan kepada generasi baru atau
kepada mereka yang telah lupa. Saat ini kemerdekaan di rayakan…berganti
menjadi perlombaan, perayaan dan karnaval atau entah apa lagi namanya.

 

Ada kekhawatiran rupanya, tentang pergeseran makna kemerdekaan ini.
Beberapa pihak menganggap bahwa kondisi aktual justru melenakan, membuat lupa
dan mungkin pula memabukkan. Kemeriahan, perayaan dan karnaval dituding menjadi
media pelupa makna revolusi, pengalih perhatian akan makna-makna kebangsaan. Betapa
dahulu perayaan dilakukan dengan sederhana namun khidmat, dibawah bayang-bayang
ancaman penjajahan, dibalik ancaman disintegraasi, tanpa perlu upacara, barisan
pengibar sang saka serta tentara yang berjajar gagah. Kemerdekaan menjadi
penanda, pembuka pintu sejarah, bermulanya sebuah babak baru, episode yang lama
selesai dan diganti episode baru. Tanpa gempita namun bermakna, tanpa suara
hening, khidmat dan meresap suksma.

 

Kemudian sekarang…

 

Saat minyak tanah langka, minyak goreng menjadi barang mewah –bahkan ada
tetangga di kos saya, sudah terlanjur membuat krupuk gendar, tak jadi digoreng
karena tak ada minyak, atau mungkin banyak pula kejadian yang lain- kebutuhan
dapur yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak yakni masalah perut
menjadi sebuah perjuangan, apa salahnya dengan perayaan kemerdekaan?? Saya
kurang mengetahui, mungkinkah masyarakat sekarang boleh dianggap sebagai
masyarakat yang manja atau kolokan? Ketika kebersamaan menjadi barang langka,
kepedulian seperti angan, dan saling membantu sama dengan bunuh diri??

 

Mungkin hanya perayaan yang bisa menetralkannya. Bila dengan karnaval
sementara masalah perut dipinggirkan, kenapa tidak? Ya maaf jika kemudian
kebangsaan, disintegrasi, reformasi yang mandek dan revolusi yang juga macet
dilupakan. Smoga hanya sejenak, hingga nanti pada saatnya akan ingat lagi, atau
selamanya karena bangsa ini memang bangsa pelupa?

Comments 2 Comments »

Beberapa hari yang lalu, kemerdekaan yang kesekian kali (lebih tepatnya ke 62) dirayakan. Buanyak sekali kegiatan untuk memeriahkannya. Seperti sudah menjadi budaya, ada perlombaan, pentas seni, karnaval dan lainnya. Mulai dari tingkat RT, RW Desa, Kecamatan, Kabupaten hingga Provinsi diadakan bermacam agenda. Hadiah yang hanya sepotong kaus, secarik roti, beberapa bungkus sabun mandi atau cuci, hingga menthok (ini khusus terjadi di dusunku).

Tak ketinggalan dusun kami, (maklum saya kan orang dusun boz) mengagendakan beberapa acara. Sangat sederhana, kebanyakan peserta masih SD, dengan panitia masih umur belasan. So, jangan harap akan ditemukan panggung yang heboh, runtutan acara yang menarik atau sekedar sound system yang berkualitas. Meski begitu, dusun kami mencoba untuk tetap tampil meriah. Jalan-jalan yang masih bebatuan ditata, di kanan kirinya dibersihkan dan dipasang bendera. Lampu yang beberapa saat lalu temaram kini sudah berpijar benderang.

Pada saatnya, tibalah di puncak acara, dimulai dari jalan santai hingga pentas seni. Namun jangan bayangkan akan kau temukan artis ibukota berdada sintal, pakaian terbuka dan paha yang kuning gading. Alih-alih piranti band yang lengkap, sebuah keyboard milik warga yang lumayan merdu, justru disambungkan dengan perangkat stereo yang sayangnya tidak stereo dan tidak merdu. Haha…Artis lokal, yang make-upnya sepertinya terlalu tebal, dan busana yang fyuhhh…lumayan bikin deg2an pemuda kampung kami, melenggak dengan canggung. Di terpa tatapan nanar ibu-ibu (yang sambil berdoa semoga anaknya tak seperti si penyanyi) atau lirikan pemuda yang selalu mengarah kebawah (istilah kerennya : tilt down) entah kenapa…

Itulah…dusunku…kemeriahan…dalam kesederhanaan…

Lepas dari itu semua, saat itu dusun kami bersatu, bersama, tertawa. Sebuah hal yang jarang terjadi dalam skala massal yah meski masih tingkat dusun. Hari yang lewat biasanya akan disibukkan dengan pekerjaan di sawah, bermandikan peluh dan mengakrabi debu. Setetes air penawar dahaga, beberapa ikan asin, tempe goreng dan tahu secuil, menjadi santap siang yang mak nyuss, dibawakan istri dari rumah dan senyum di gigi tak rapinya. Namun siang itu, lupakan sejenak sawah, air yang sukar dicari apa lagi jika kemarau seperti ini, dan padi yang menguning bukan karena tua siap dipanen, namun karena air yang kian langka. Siang itu kami tertawa, berjoget, berbagi dan saling mengirikan door prize..yang seperti saya sebut di muka, kaos oblong, buku tulis, sabun mandi, sabun cuci, odol, kompor minyak tanah dan menthok…

…Mungkinkah…itu makna kemerdekaan bagi dusun kami?? kebersamaan, kegembiraan, dan tawa? meski masih dalam koridor kesederhanaan…

-mungkin ini bagian pertama dari beberapa tulisan-

Comments 2 Comments »

“ Tanpa menghiraukan esensi agama mereka hanya bergulat pada
tingkat syariat. Kunjungan mereka ke tempat-tempat ibadah hanya merupakan
pameran belaka. Pembacaan kitab-kitab suci-pun hanya untuk memamerkan suara
mereka.”

“Jangan memaksa dirimu untuk mengikuti perilaku seorang
nabi. Sebagai orang jawa sifat dasarmu sudah berbeda, dan sebenarnya kau tidak
dapat meniru siapapun. Jangan sombong ataupun mengharapkan pujian. Apabila kamu
berpegang teguh pada apa yang kamu pelajari selama ini,itupun sudah cukup untuk
memperoleh karunia Allah.”

“Sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, sebaiknya
kau menunaikan kewajibanmu dengan penuh kesadaran sesaui dengan kemampuan serta
keahlianmu. Demikian pendapatku, seorang bodoh yang tidak sepenuhnya menguasi
bahasa jawa, apalagi bahasa asing, namun tetap memberanikan diri untuk
menyampaikan ajaran-ajaran ini kepada kalian.”

“Banyak diantara kita yang percaya pada Tuhan karena takut
pada akherat. Hanya sedikit diantara kita yang benar-benar menyintai Tuhan. Ada pula yang hanya
mengharapkan pahala dan ganjaran, mereka lebih parah lagi, hubungan mereka
dengan Tuhan adalah hubungan dagang.”

Comments 3 Comments »

JIKA tuan berdiri di salah satu sudut Senayan City, tuan akan tahu bagaimana malam berubah sebagaimana juga dunia berubah. Di ruangan yang luas dan disejukkan pengatur udara, cahaya listrik tak pernah putus. Iklan dalam gambar senantiasa bergerak, bunyi musik menyusup lewat ratusan iPod ke bagian diri yang paling privat, dan lorong-lorong longgar itu memajang bermeter-meter etalase dengan busana dan boga.

Sepuluh–bukan, lima–tahun yang lalu, malam tidak seperti ini. Juga dunia, juga kenikmatan dan kegawatannya.

Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di Jakarta, dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa mega-kilowatt listrik dikerahkan untuk membangun kenikmatan yang tersaji buat saya hari itu. Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo, di tepi jalan yang meriah di Ginza, teman saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang. “Tahukah Tuan,” tanyanya, “jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?”

Saya menggeleng, dan ia menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Ia berbicara tentang ketimpangan, tentu. Ia ingin saya membayangkan rumah-rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri miskin yang ternyata tak punya daya sebanyak 10 buah mesin jajanan di negeri kaya–mesin yang menawarkan sesuatu yang sebetulnya tak perlu bagi hidup manusia.

Saya merasa bodoh, mungkin juga merasa salah. Seandainya bisa saya hitung berapa kilowatt energi yang ditelan oleh sebuah mall di Jakarta, di mana saya duduk minum kopi dengan tenang, mungkin saya akan tahu seberapa timpang jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah kabupaten nun di pedalaman Flores.

Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.

Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai tubuh siapa saja–termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall, di sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air laut yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair. Orang India, yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

“Saya tak lagi berpikir tentang keadilan dunia,” kata teman Jepang itu pula, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Beberapa tahun kemudian ia meninggalkan negerinya. Saya dengar ia hidup di sebuah dusun di negeri di Amerika Latin, membuat sebuah usaha kecil dengan mengajak penduduk menghasilkan sabun yang bukan jenis detergen, mencoba menanam sayuran organik sehingga tak banyak bahan kimia yang ditelan dan dimuntahkan–tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan dunia. Saya baca hitungan itu: dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat cairnya es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan Teduh itu–dan tak menenggelamkan Amerika.

Ingin benar saya tak memikirkan ketidakadilan dunia, tapi manusia juga menghadapi ketidakadilan antargenerasi. Mereka yang kini berumur di atas 50 tahun pasti telah lama menikmati segala hal yang dibuat lancar oleh bensin, batu bara, dan tenaga nuklir. Tapi mungkin sekali mereka tak akan mengalami kesengsaraan masa depan yang akan dialami mereka yang kini berumur 5 tahun. Dalam 25 tahun mendatang, kata seorang pakar, emisi C02 yang akan datang dari Cina bakal dua kali lipat emisi dari seluruh wilayah Amerika, Kanada, Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru. Apa yang akan terjadi dengan bumi bagi anakcucu kita?

“Terlalu sulit, terlalu sulit,” kata teman Jepang itu.

Ekonomi tumbuh karena dunia didorong keinginan hidup yang lebih layak. “Lebih layak” adalah sesuatu yang kini dikenyam dan sekaligus diperlihatkan mereka yang kaya. Kini satu miliar orang Cina dan satu miliar orang India memandang mobil, televisi, lemari es, mungkin juga baju Polo Ralph Lauren dan parium Givenchy sebagai indikator kelayakan, tapi kelak, benda-benda seperti itu mungkin berubah artinya. Jika 30% dari orang Cina dan India berangsur-angsur mencapai tingkat itu seperempat abad lagi, ada ratusan juta manusia yang selama perjalanan seperempat abad nanti akan memuntahkan segala hal yang membuat langit kotor dan bumi retak. Seperempat abad lagi, suhu bumi akan begitu panas, jalan akan begitu sesak, dan mungkin mobil, lemari es, baju bermerek, dan perjalanan tamasya hanya akan jadi benda yang sia-sia.

Mungkin orang harus hidup seperti di surga. Konon, di surga segala sesuatu yang kita hasratkan akan langsung terpenuhi. Itu berarti, tak akan ada lagi hasrat. Atau hasrat jadi sesuatu yang tak relevan; ia tak membuat hidup mengejar sesuatu yang akhirnya sia-sia.

Tapi akankah saya mau, seperti teman Jepang itu, pergi ke sebuah dusun di mana tak ada mall, tak ada bujukan untuk membeli, dan hidup hampir seperti seorang rahib? Di mall itu, saya melihat ke sekitar. Terlalu sulit, terlalu sulit, pikir saya.

~Majalah Tempo Edisi Edisi. 10/XXXIIIIIII/07 - 13 Mei 2007~

Comments 2 Comments »

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Ke mana ia harus mencari bagian dari tubuhnya itu.

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah dia tinggalkan. Perlahan, dia tapaki jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda dia amati, dan dia cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei, kenapa kini semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya jadi lebih indah.

Rerumputan dan ilalang menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda, menimbulkan suara yang ritmik, kesiuran sahdu ditimpuki angin. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang ditabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Begitulah hidup. Kita seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan ada saat-saat indah yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu ditekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita. Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!

"Sumber : Resonansi; www.suaramerdeka.com";

Comments No Comments »

Ada satu bintang, bersinar cemerlang, lebih terang meski dalam lautan bintang.

Ada pungguk yang mengangguk-angguk, berharap namun justru terantuk.

Ada jarak membentang, ada waktu yang terentang…

Entah, mungkin karena pungguk lelah

Langit kelabu seakan hendak runtuh

Bintang tertutup awan, semburatnya bahkan tak tampak

Entah, mungkin karena pungguk lelah

Hujan datang, tak hanya gerimis, membawa basah angin dan dingin

Bintang tertutup air, semburatnya bahkan tak tampak

Namun, setelah hujan

Harum tanah dan hijau rumputan basah

Indah

Namun, setelah hujan

Langit biru, dan mentari tak lagi malu

Cerah

Dan bintang….???

Tetapkah disana…???

Tak tergapai…???

Biarkanlah
Menjadi penunjuk arah nelayan

Biarkanlah
Bertahta di gelap malam

Sampai…

Ruang dan waktu terlipat

Kembali menjadi titik

Comments No Comments »

Suatu ketika, sebuah titik telah berubah
menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian
membentuk ruang.

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Ide tentang ruang untuk
hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak
peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa
nyawa yang telah melayang.

Demi beberapa meter
persegi yang lebih luas, beberapa depa tanah yang lebih subur, beberapa jengkal
ladang kaya minyak dan entah apa lagi…

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Dimensi tubuh kita
tidaklah terlalu luas, namun justru karena otak kecil kita, segenggam hati kita
dan seonggok jantung kita yang tentu juga kecil, mulai muncul masalah.

Rentetan keinginan dan
kebutuhan yang dihasilkan dari sensasi mata, desiran kulit, dan getaran gendang
telinga. Terhubung melalui syaraf halus dengan otak yang mulai bekerja,
merembet pula ke jantung yang perlahan mulai berdegup dan mengendap-endap
menjadi ketetapan hati.

Keinginan yang menjelma
menjadi ular dengan bisa dan bahaya laten. Memaksa kita untuk mendapatkan lebih
dan lebih banyak lagi ruang. Padahal bukankah dimensi tubuh kita tidak terlalu
luas?

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

Kembali ke hati, bukankah
kecil? Hitam tidak terlalu enak dan sumber penyakit? Jangan tergesa-gesa dengan
fakta ini, semua ini terjadi ketika hati telah mati.

Dalam perjalanannya hati
mengalami cerita selayaknya tubuh, ada muda dewasa dan tua. Selayaknya hari,
ada pagi, siang dan malam. Kemudaaan hati menyebabkan ia diisi dengan sejuta
harapan. Seperti anak-anak, semua keinginan dan harapan harus terpenuhi. Saat
itu, keinginan kita masih sangat sederhana dan akan sangat banyak orang yang
akan membantu kita, bukankah ketika itu semua orang sayang kepada kita? Hati
waktu itu seperti taman yang tidak luas namun indah.

 Seiring bertambahnya usia kita, keinginan
akan semakin bertambah pula. Saat bersamaan, kita akan mulai mengenal
kegagalan, harapan yang tak kunjung menjadi nyata dan keinginan yang tidak
terkabul. Ada pula saat ketika hati mulai menyediakan ruang spesial untuk
sesuatu bernama cinta.
Saat
itu hati telah menjadi ruang-ruang dengan isi masing-masing ruang yang berbeda.
Ada ruang untuk kegagalan, harapan, keinginan dan cinta.

Bila
hati telah menjadi tua, banyak yang bisa terjadi. Bergantung kepada
masing-masing individu.
Si
tua ini, adalah hasil dari perjalanan di masa lalu. Bisa saja menjelma menjadi
ruang dendam yang diisi dengan senjata pemusnah masal atau tiang gantungan.
Namun tak jarang ada pula yang berubah menjadi ruang penuh maaf, berisi bilik
pengakuan dosa, dan ruang kosong sangat luas untuk membuang semua resah, gagal
dan benci.

Akhirnya berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan??

-sedikit banyak terinspirasi leo tolstoy-

Comments No Comments »